Sabtu, 20 April 2013

DPRD Optimis Anggaran 2013 Terserap

Memasuki awal Triwulan II realisasi pengerjaan proyek di Muarojambi belum berjalan secara maksilan. Namun DPRD Muarojambi optimis jika serapan anggaran tahun 2013 ini akan terserap semua hingga akhir tahun anggaran.

''Memang untuk pekerjaan fisik belum dimulai semua, dan masih dalam proses tender. Tapi saya yakin tahun ini anggaran yang ada akan terserap semua,'' tutur Ketua Komisi B DPRD Muarojambi, Samsul Bahri.

Samsul menjelaskan untuk tahun ini ada perbedaan tengat waktu pekerjaan proyek fisik di Muarojambi. ''Keyakinan kami anggaran akan terserap semua berujuk tahun lalu. Tahun lalu memang tidak terserap semua karena pekerjaan fisik baru dimulai bulan 7 sekarangkan bulan 3 sudah mulai meskipun sekarang baru memasuki proses tender. Jadi waktunya pekerjaanya lebih lama,'' ujarnya.

Samsul menjelaskan, dirinya telah meminta SKPD yang menelan anggaran besar agar memulai pekerjaan fisik maupun non fisik yang tidak harus melalui proses lelang. ''Pekerjaan yang tidak perlu ditender saya minta untuk dikerjakan. Dan, kami sudah memanggil SKPD yang bersangkutan,'' tukasnya.

Saat ini salah satu pekerjaan proyek fisik yang sedang berlangsung saat ini pembangunan arena MTQ di Kecamatan Muarosebo. Untuk pekerjaan pembangunan arena MTQ menurut Samsul bahri Bupati Muarojambi menjamin jika pekerjaannya tepat waktu. ''Seperti kata Bupati tadi bupati menjamin pekerjaannya tepat waktu dan katanya sudah 70 persen pekerjaan arena MTQ itu,'' katanya.

Meskipun bupati mengatakan tidak akan menunda pelaksanaan MTQ pihaknya lanjut Samsul tetap akan melakukan pengecekan kelapangan. ''Kita akan cek apakah memang sudah 70 persen sesuai dengan yang dikatakan bupati atau tidak,'' imbuhnya.

Sebelumnya DPR Muarojambi memanggil SKPD yang belum memulai pekerjaan, jika SKPD belum memulai pkerjaan fisiknya akan berdampak pada serapan anggaran yang tidak maksimal sehingga menimbulkan silva yang besar seperti tahun lalu.

HADAPI MTQ TINGKAT PROPINSI JAMBI 2013 DISIAPKAN 142 RUMAH UNTUK KHAFILA



"Pemondokan MTQ menggunakan rumah masyarakat, mengingat banyaknya jumlah Khafilah dari 11 kabupaten/kota yang ada di Muarojambi berikut official. Lokasi pemondokan berada di  dua kecamatan, karena pelaksanaan perlombaan MTQ tidak terfokus satu tempat tetapi tersebar di dua kecamatan,’’ sebutnya.

Dikatakannya, lomba cabang tahtil saru kalimah dan 5 jus alqurakan, cabang takfis golongan 10 dan 20 jus, dilaksanakan di Mesjid Sengeti. Cabang fahmil dan sarhi di gedung serba guna komplek perkantoran Sengeti, M2AQ musabaqoh ilmiah alquran digedung DPRD Muarojambi. Untuk diarena utama MTQ pembukaan, penutupan, bazar dan lainnya. "Pokoknya teknis perlombaan telah dipersiapkan tinggal realisasi pelaksanaannya saja," tegasnya.

Untuk kafilah Muarojambi, katanya, akan dikirim sesuai dengan perlombaan yang ada dan kafilah Muarojambi totalnya berjumlah  54 kafilah dan 36 pendamping ."Kami melakukan pembinaan khafilah dengan cara  melakasanakan TC yang berjalan maupun dikirim daerah  pusat dan keluar daerah, serta  ada yang diberangkatkan ke Bogor keluar daerah untuk beberapa cabang," tukasnya.

Seperti tahun sebelumnya, Pemkab Muarojambi telah berkomitmen untuk menggunakan khafilah asli putra dan putri Muarojambi tanpa menggunakan jasa khafilah lain untuk hanya sekedar mencari piala saja. "Saya melarang memakai khafilah daerah lain, sebab ini merupakan pembinaan bukan hanya mengejar piala saja," tegas Bupati Muarojambi H. Burhanudin beberapa waktu lalu

Jumat, 12 April 2013

Solusi Jamaah

Beribadah ke tanah suci adalah dambaan setiap umat muslim. Selain karena salah satu rukun Islam, bagi yang sudah pernah mengalaminya keinginan untuk kembali ke sana merupakan hal yang sering muncul. Ya, karena rasa rindu akan suasana, dan berada di tempat yang mendapatkan keberkahan Allah SWT. Namun, BIAYA yang mahal sering menjadikan kendala. Banyak yang harus menunda keinginannya untuk melaksanakan ibadah Umroh, apalagi Haji. Jika anda mengalaminya, inilah SOLUSInya! Kami memberikan solusi dan kabar gembira  siapa saja yang ingin mewujudkannya.
Inilah keunggulan program kami dibandingkan dengan lainnya adalah sebagai berikut :

Penyelenggara LAIN KAMI
Biaya Paket 1. Paket Umroh mulai dari USD 1,950 1. Paket Umroh mulai dari USD 1.950
Kemudahan Pembayaran 2. DP Minimal + 85 % 2. DP hanya Rp 3.500.000,-
Reward 3. Terima kasih semoga Bapak / Ibu mendapat kesempatan lagi. 3. Bila sekeluarga 4 orang, otomatis dapat hasil usaha : Umrah Rp 4.950.000,- & Haji Plus Rp 7.150.000,-
Keuntungan Referensi 4. Komisi + Rp 250.000,- s/d Rp 500.000,- setelah pelunasan selesai 4. Referensi calon Jama’ah Umrah Rp 1.500.000,- Referensi calon Jama’ah Haji + Rp 2.500.000,-
Manfaat untuk Ahli waris 5. Tidak ada 5. Mendapatkan hak usaha yang bisa diwariskan.
Peluang Gratis Biaya 6. Kemungkinan peluangnya kecil 6. Berkesempatan berangkat ke tanah suci secara Gratis
Manfaat Asuransi 7. Hanya asuransi biro perjalanan pulang pergi. 7. Mendapatkan Asuransi jiwa (dari MEGALIFE Syariah).
Nah, mau tunggu apa lagi??! Bagi anda yang ingin segera melaksanakan ibadah Umroh, KLIK INI, untuk dapatkan informasi selengkapnya, apa saja yang mesti dipersiapkan dalam rangka rencana

Polisi Ikut Terlibat Perampokan Rp 1,3 Miliar


Polisi Ikut Terlibat Perampokan Rp 1,3 Miliar
Kota Jambi - Aksi perampokan dengan menggunakan senjata api rakitan kembali terjadi di wilayah hukum Polda Jambi. Kali ini bukan penjahat biasa yang melakukannya, melainkan pera perampok yang mempunyai jaringan luas antar provinsi di Sumatera. Salah satu pelaku ada yang berstatus sebagai anggota Polri di jajaran Polda Jambi.

Anggota polisi yang terlibat kasus perampokan senilai Rp 1,3 miliar tersebut adalah Jailani berpangkat Brigadir, bertugas di Kepolisian Air dan Kelauatan Jambi. Dalam perampokan itu Jailani bertugas sebagai pengemudi mobil.

Kapolda Jambi, Brigjend Pol Bambang Suparsono, membenarkan ada satu orang anggotanya yang terlibat dalam aksi perampokan uang senilai Rp.1,3 miliar milik PT Inwha yang bergerak di bidang migas dengan menggunakan senpi rakitan.

Ditambahkan Bambang, sudah 8 orang tersangka yang tertangkap dari jumlah seluruh tersangka 14 orang. Hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan, pengembangan dan melakukan pengejaran terhadap 6 orang tersangka lainnya yang berhasil kabur.

Para pelaku terdiri dari 2 kelompok yaitu dari kelompok Palembang yang bertindak sebagai eksekutor dan kelompok Jambi yang memberikan fasilitas. Salah satu karyawan PT. Inwhan juga terlibat didalamnya saat ini masih dalam pengejaran pihak kepolisian.

Sementara korban perampokan, Tukimin, hingga saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Mayang Medical Center di kamar Arjuna 5, Jumat (11/12). Tukimin terkena tembakan dibagian paha bagian belakang hingga nyaris tembus, meski keadaannya mulai berangsur membaik.

Menurut Tukimin, sejak awal dirinya sudah curiga ada mobil yang membututinya sejak dari Bank Mandiri di daerah pasar Jambi. Sempat terjadi salip-salipan antara mobil pelaku dengan mobil yang ditumpangi korban bersama 3 orang temannya dan satu orang supir.

Tiba di jalan lintas Jambi-Palembang, tepatnya di km 38 Desa Ibru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi, mobil korban dihadang mobil pelaku. Kemudian pengemudi mobil korban, Antoni turun dan melihat 4 pelaku turun dari mobil dengan senjata api kemudian Antoni kabur.

Di dalam mobil hanya tinggal 3 orang, korban Tukimin yang bekerja di PT Inwhan sebagai ahli dibagian komputer duduk dibagian tengah tepat dibelakang sopir. Pelaku masuk dari pintu sopir dan membukan pintu belakang dan mengambil tas berisi uang 1,3 miliar untuk gaji karyawan yang berada disamping korban.

Sempat terjadi tarik menarik hingga akhirnya pelaku memberikan dua tembakan keudara namun korban masih mempertahan kan tas berisi uang tersebut dan akhirnya pelaku menembak paha dibagian belakang sebelah kiri dan korbanpun tersungkur dan pelaku berhasil membawa lari tas tersebut.

"Saya bersaha keras mempertahankan tas yang saya pegang. Sempat kami saling tarik menarik, namun saya ditembak, dan tas itu berhasil di bawa kabur," jelas Tukimin.

Diduga otak dari aksi perampokan tersebut adalah seorang wanita yang merupakan karyawan PT Inwha. Adalah Nely Asmini, warga Sumatera Selatan. Hingga saat ini masih buron yang fotonya sempat diperlihatkan kepada media.

Delapan orang tersangka ditangkap berikut barang bukti berupa uang tunai Rp 144 juta, beberapa unit handphone, dompet, dua senjata api rakitan dan 10 butir peluru aktif. Kemudian kapak, linggis, tiga unit mobil dan motor yang digunakan saat beraksi. Semuanya sudah diamankan di Mapolda Jambi untuk kepentingan penyelidikan. Para tersangka akan dikenakan dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

By : Info Jambi.Com

Rabu, 10 April 2013

11 Motif Batik Muarojambi Telah Dipasarkan

Setelah dikukuhkan minggu lalu, Batik Muarojambi yang memiliki  11 motif saat ini telah dipasarkan ditengah-tengah masyarakat, 11 motif ini merupakan motif khas yang diciptakan oleh perajin Muarojambi.
Beberapa motif yang diciptakan ialah merupakan rangkuman dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Muarojambi, setiap motif menggambarkan kekhasan sebuah kecamatan seperti motif sawit, nanas,  candi, ikan sepat, daun katu dll yang ditanamkan di selembar lain yang memiliki beragam warna.
Ketua TP PKK Muarojambi yang merupakan penggagas motif khas Muarojambi mengatakan ide ini sebenarnya telah lama muncul, namun baru sempat dikukuhkan minggu lalu.  ‘’Saat Bapak Bupati dilantik sebenarnya saya telah memiliki ide namun baru kini kesampaian,’’  ujar Ibu Suliyanti Burhanudin Mahir ketika dikonfirmasi kemarin.
Batik ini nantinya akan menjadi pakaian wajib bagi pegawai daerah Muarojambi setiap hari Kamis dan peringatan hari-hari besar lainnya. ‘’Keseluruhan motif telah dipasarkan dan telah bisa didapatkan diberbagai toko batik khas jambi,’’ tukas Suliyanti.
Keseluruhan batik ini sebelumnya telah dipamerka pada acara pengukuhan Bunda Paud kabupaten Muarojambi, Batik dipamerkan langsung oleh para model lokal yang merupakan pegawai di lingkup Kabupaten Muarojambi, acara ini mendapatkan samtan antusias dari undangan yang hadir seperti Ibu Gubernur Jambi, Ibu Rosita Endra, Dan istri Bupati lainnya.

Selasa, 09 April 2013

Keunggulan Budidaya Lele Sangkuriang

Saat ini banyak peternak yang membudidayakan Lele Sangkuriang. Hal ini disebabkan Lele jenis ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis lain. Adapun keunggulannya adalah sebagai berikut :
1.  Hasil produksi lebih tinggi
Angka produksi lele sangkuriang relatif lebih tinggi.
2.  Panen yang lebih cepat
Laju pertumbuhan lele sangkuriang cukup cepat dan berdampak pada cepatnya siklus panen.
3.  Kemampuan bertelur dan daya tetas telur tinggi
Kemampuan bertelur induk lele sangkuriang sangat luar biasa. Kemampuan bertelur induk lele sangkuriang 40.000 – 60.000 butir bertelur dalam sekali pemijahan. Begitu juga dengan daya tetasnya. Telur lele sangkuriang memiliki daya tetas lebih tinggi, yakni diatas 90%. Apalagi pemijahan dilakukan dengan cara tradisional tanpa cara disuntik.
4.  Lebih tahan terhadap penyakit
Semua jenis lele dipersenjatai dengan lendir yang melapisi kulitnya, tak terkecuali lele sangkuriang. Lendir ini berguna untuk melindungi kulit atau tubuh lele, terutama untuk menangkal serangan penyakit. Karena itu, hindari perlakuan terhadap lele yang dapat mereduksi atau mengikis lendir di kulit lele.
5.  Kualitas daging lebih unggul
Daging lele sangkuriang lebih unggul. Keunggulan ini terbukti dari tekstur daging yang lebih padat. Selain itu, daging lele sangkuriang lebih minim kandungan lemaknya, lebih renyah, lebih gurih dan tidak berbau lumpur.
6.  Lebih tahan banting
Sama seperti lele pada umumnya, lele sangkuriang termasuk ikan yang lebih tahan banting. Untuk dapat bertahan hidup, lele sangkuriang tidak memerlukan kondisi atau persyaratan air khusus seperti ikan air tawar lainnya.
7. Dapat dipelihara di air tergenang dan minim air
Dengan alat arborescent organ, lele mampu hidup pada perairan yang minim oksigen sehingga tidak memerlukan penggantian air yang ketat. Lele sangkuriang sangat memungkinkan di pelihara di dalam wadah budidaya dengan kondisi air yang kritis, misalnya di bak comberan.
8.  Dapat dipelihara di berbagai wadah
Lele bisa dibudidayakan di dalam wadah yang beragam. Misalnya, menggunakan kolam terpal, drum, bak, kolam tadah hujan atau wadah alternatif lainnya.
9.  Teknik pemeliharaan mudah
Dalam hal pergantian air, tak harus sesering jika membudidayakan ikan bersisik. Bahkan disarankan untuk tidak mengganti air kolam sama sekali selama masa pemeliharaan lele sangkuriang, kecuali terjadi perubahan kualitas air. Pasalnya penggantian air akan mengubah kualitas air ideal bagi lele sangkuriang.
10. Bisa dibudidayakan di lahan sempit
Lele sangkuriang sangat mudah di budidayakan di lahan yang sempit atau terbatas.
11. Dapat menerima berbagai pakan
Lele dikenal sebagai ikan pemakan segala. Dalam budidaya lele dapat diberikan pakan buatan seperti pelet dan pakan tambahan seperti ikan rucah, bekicot, sosis yang sudah expired hal ini dapat mengurangi biaya produksi (biaya pakan).
12. Benih mudah diperoleh
Pada awal diperkenalkan kepada masyarakat, benih lele sangkuriang masih sangat sukar di peroleh. Namun seiring berjalannya waktu, jumlah pembudidaya pembenihan lele sangkuriang semakin bertambah banyak.
13. Teknologi budidaya lele telah dikuasai masyarakat
Saat ini masyarakat sudah dapat menguasai teknologi budidaya lele dengan benar, karena makin banyaknya tempat pelatihan yang mengajarkan budidaya lele.
14. Dari sisi distribusi dan pemasaran dalam kondisi hidup
Distribusi lele hingga di rantai akhir pemasaran senantiasa dalam kondisi hidup, lele tersaji dalam kualitas prima di meja konsumen.
Sumber : ternaklelesangkuriang.com

Minggu, 07 April 2013

In Memory of Yusak The Orang Rimba Education Hero


In Memory of Yusak The Orang Rimba Education Hero

Art Performance teater Tonggal memperagakan Yusak mengajar anak-anak rimba. Foto Heriyadi/Dok KKI Warsi
Art Performance teater Tonggal memperagakan Yusak mengajar anak-anak rimba. Foto Heriyadi/Dok KKI Warsi
Air matanya menggantung dipelupuk, diciumnya lukisan sang putra yang sudah 14 tahun silam pergi meninggalkannya untuk selamanya.  Haru, sedih namum ada kebanggaan di hati Roosni Hutapea, sang ibu yang telah melahirkan Yusak Adrian Hutapea pionir guru pendidikan Orang Rimba.  Dalam kisahnya Roosni (75) sempat melarang Yusak putra kelimanya untuk bekerja di Warsi, ia meminta Yusak  bekerja di kota dengan pekerjaan yang lebih mapan.
Namun larangan sang mama, di jawab dengan bijak oleh Yusak. “Mama, kalau mama lihat sendiri orang rimba, melihat bagaimana mereka hidup, melihat bagaimana tanah-tanah mereka diambil pihak lain, saya yakin mama akan mendukung saya,”tutur Roosni menirukan ucapan Yusak kala itu.
Sang mamapun akhirnya merestui putra kelimanya itu bekerja bersama Orang Rimba yang diawalinya pada 24 Januari 1998.  Kala itu, Yusak sebagai antropolog lulusan Universitas Gajah Mada 1997,  direkrut Warsi untuk mengembangkan pendidikan bersama anak-anak rimba.  Yusak bersemangat sekali menekuni pekerjaaannya, kelompok demi kelompok Orang Rimba ditemuinya. Bergaul akrab dengan Orang Rimba, Yusak melihat suatu kenyataan bahwa Orang Rimba kehilangan sumber daya mereka karena ketidaktahuan Orang Rimba pada huruf-huruf dan angka. Hanya disodori selembar kertas kemudian di diminta Orang Rimba membubuhkan jempolnya, seminggu berikutnya Orang Rimba sudah tergusur ditanahnya sendiri, rupanya cap jempol yang dibubuhi merupakan surat persetujuan Orang Rimba untuk pengalihan lahan mereka menjadi perkebunan sawit, HTI trasmigrasi.
Ibunda Yusak, Ny Roosni (75) menyampaikan curahan hatinya terkait perjuangan sang putra. Foto Heriyadi/Dok KKI Warsi
Ibunda Yusak, Ny Roosni (75) menyampaikan curahan hatinya terkait perjuangan sang putra. Foto Heriyadi/Dok KKI Warsi
Terlihat sekali ketidaktahuan Orang Rimba dimanfaatkan pihak lain, satu-satunya cara harus memberitahukan Orang Rimba tentang huruf dan angka. Kala itu  Warsi belum menemukan metoda yang cocok untuk memulai pendidikan bersama anak-anak rimba. Adat dan budaya Orang Rimba yang unik menjadi kendala utama untuk pengenalan huruf dan angka pada Orang Rimba. Kala berdiskusi dengan rekan-rekan dan managemen Warsi yang kala itu dipimpin Firdaus Jamal, timbul pertanyaan “Bagaimana caranya, bagaimana memulainya? itu pertanyaan kami waktu itu,”ujar Firdaus Jamal mengingat pertemuan kantor Warsi di Kota Bangko.
Yusak  punya ide untuk belajar di Kali Code Yogyakarta. Yusak yang lama menempuh pendidikan di Yogya  melihat ada sekolah untuk anak jalanan dan terlantar.  Warsipun mendukung Yusak untuk belajar ke Yogya, selama satu bulan Yusak mempelajari seluk beluk pendidikan alternatif di Yogya. Sepulang dari Yogja, Yusak melakukan studi awal pilot projek pendidikan pada 15 Juni hingga 15 Juli 1998. Kemudian dilanjutkan pada 25 Juli hingga 2 Agustus 1998. Fokus studi dilakukan di daerah Makekal Hulu dan Makekal Hilir, Bukit Dua Belas Jambi.
Studi diawali di pinggir Sungai Pengelaworon dan Sungai Sako Rempon di Makekal Hulu. Orang Rimba di daerah ini dipimpin oleh Mangku Tuha dengan anggota kelompok 98 jiwa. Kemudian ia melanjutkan studi ke daerah Pangarukan yang saat itu dipimpin Menti Bepak Pengusai. Jumlah Orang Rimba disini hanya 22 jiwa.  Yusak juga mengunjungi kelompok Tumenggung Mirak di Sungai Sako Talun yang memiliki anggota kelompok sebanyak 24 jiwa.
Sedangkan di Makekal Hilir, ia mengunjungi kelompok Bedinding Besi, kelompok Nitip (Bepak Bepiun), dan kelompok Mensemah (Bepak Sijangkang). Ketiga kelompok ini memiliki jumlah anggota sebanyak 83 jiwa.
Dari studi ini, dan mempelajari adat kebiasaan Orang Rimba Yusak berkesimpulan, bahwa pendidikan untuk Orang Rimba hanya fokus pada baca tulis dan hitung.  Namun bukan perkara mudah untuk menenalkan angka dan huruf-huruf pada Orang Rimba.  Dengan adat budaya yang menganut kebalikan dari masyarakat melayu, Orang Rimba menolak semua hal-hal yang berasal dari luar adat dan kebiasaan mereka, termasuk mengenal pendidikan. “Waktu itu, Tumenggung kami melarang untuk ado  nang diajarko Yusak, tapi dio datang pado akeh, dio cakopkan ke akeh, apo perlunya belajor nang dimaksud mendiang (Yusak). Waktu itu akeh suruh budak-budak cubo ikut dulu, anak akeh Pengusai, ternong anak adik akeh, satu lagi Beseling, yang akeh suruh ikut pelajoron,”kenang Bepak Pengusai, tengganai Orang Rimba yang mendukung Yusak untuk pendidikan pertama di gelar di pinggir Sungai Pengelaworan.
Yusak mengajar anak-anak rimba Foto Dok KKI Warsi
Yusak mengajar anak-anak rimba Foto Dok KKI Warsi
Kala mengajari ketiga murid ini, murid Yusak bertambah, ada Ngrip, Mendawai dan Ngetepi juga ikut bergabung. Anak-anak rimba ini diajarkan Yusak huruf demi huruf, angka demi angka.  Dari catatan Yusak menuliskan memberikan pengajaran bagi Orang Rimba ternyata tidak mudah. Banyak huruf yang tidak diketahui dalam bahasa rimba, sehingga Orang Rimba sulit membacanya. Huruf-huruf seperti E, F, H, I, K, M, N, O, Q, V, W, X, Y, Z, sangat susah mereka hafalkan bentuk hurufnya. Namun jika disuruh untuk meniru tulisan tersebut, mereka cukup cepat melakukannya. Selain itu kebiasaan mereka memakai bahasa orang rimba/cakap rimba juga membuat mereka sulit melafalkan beberapa huruf, yaitu F, R, V, W, X, Y, Z.
Untuk mempermudah pengenalan huruf-huruf yang sama sekali belum diketahui Orang Rimba, Yusak mengaitkan bentuk huruf dengan alam sekitar, terutama yang ada dalam pikiran mereka. Misalnya, huruf A seperti sesudungon (rumah Orang Rimba yang beratapkan terpal), E seperti angka 3 terbalik, I seperti titian batang/kujur, J seperti mata pancing, K seperti ranting pohon, M seperti burung terbang, N seperti huruf M terpotong, O seperti tutup botol, T seperti tiang jemuran, W seperti kebalikan huruf M, X seperti palang, Y seperti ketapel/peci.  Sisa huruf lainnya,  Yusak meminta murid-muridnya untuk mengaitkan dengan benda yang ada disekitar mereka.  Cara ini ternyata cukup membantu untuk mempercepat mereka dalam membaca dan menghafal huruf-huruf.
Sedikit demi sedikit anak-anak rimba semakin tertarik untuk mengetahui huruf-huruf dan cara membacanya. Siomban yang juga bergabung dengan Yusak, menyebutkan kala itu, dia sangat tertarik untuk mengetahui pelajaran yang dibawa Yusak. “Kami sering dipalolo, jual getah sudah sekwintal tapi kato toke kurang, sen yang kami dapat sedikit, ini yang mendorong akeh untuk terus ikut pendidikan bersama Yusak,”ujar Siomban salah satu murid Yusak dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.
Untuk lebih memudahkan orang rimba melafalkan alphabet ini, Yusak kemudian merekam suaranya menggunakan tape recorder, kemudian diperdengarkan kembali pada Orang Rimba. Hal ini ternyata cukup ampuh dan mereka cukup cepat  melafalkannya A sampai Z.
 Dengan enam orang rimba yang mengikuti pendidikan yang di buat Yusak, tak langsung berjalan mulus. Dalam beberapa hari Mendawai dan Ngentepi sudah ada yang mengundurkan diri. Tanggal 29 Juli 1998 petang, Betatai (anak Tumenggung Mirak), Besangkil, dan Manggung, datang ke pondok belajar. Sebenarnya mereka dalam perjalanan menuju SPG Bungo Tanjung untuk belanja. Yusak sudah menjelaskan pada mereka kalau Tumenggung Mirak kurang setuju dengan program pendidikan ini, tetapi ketiga anak ini tetap ingin mengikuti pendidikan. Ternyata kedatangan mereka bertiga membuat Mendawai dan Ngentepi datang lagi ke pondok belajar, dan mereka semua ikut dalam kegiatan belajar. Tambahan murud ini, membuat Yusak senang, karena pesertanya bertambah banyak. Pada malam itu, Terenong, Pengusai, Beseling, dan Grip memamerkan kepandaiannya kepada Betatai, Besangkil, dan Manggung yang baru datang. Ternyata mereka tertarik dan ikut belajar walau cuma satu malam saja.
berderet Siomban (dua dari kiri), Pengusai dan Bepak Pengusai menyampaikan testimoni tentang Yusak. Pengusai dan Siomban merupakan murid Yusak. Foto Heriyadi/dok KKI Warsi
berderet Siomban (dua dari kiri), Pengusai dan Bepak Pengusai menyampaikan testimoni tentang Yusak. Pengusai dan Siomban merupakan murid Yusak. Foto Heriyadi/dok KKI Warsi
Pada kesempatan pendidikan perdana ini, selain anak-anak beberapa Orang Tua juga mulai ikut, terutama setelah sore  hari. Mengajar Orang Rimba menurut Yusak, juga membuatnya kadang senyum sendiri, pasalnya Orang Rimba begitu besarnya mengerahkan energi untuk dapat menulis dan membaca.  Keringat mereka bercucuran dengan deras, dan setiap kali mereka mencoba untuk membaca dan menulis.
Setelah seminggu memberikan pendidikan ini, Yusak melihat kemajuan yang berarti pada orang rimba. Grip, Terenong, Pengusai, Besuling sudah dapat membaca dan menulis huruf A sampai Z. Mereka juga sudah mulai bisa mengeja beberapa kata, seperti  I – bu; a – ke; a – ku, ba – pak; oi; au; ho – pi. Suatu gambaran atas puasnya mereka setelah pandai membaca dan menulis huruf A sampai Z adalah penuhnya dinding pondok dengan tulisan kapur mereka.
Setelah sukses dengan pilot projeknya ini, Yusak dengan dukungan penuh staf Warsi lainnya, mulai mengembangkan pendidikan ke sejumlah kelompok lain. Yusak makin bersemangat, anak-anak rimbapun semakin akrab. Hingga pada pagi 25 Meret 1999, Yusak tidak enak badan. Bepak Pengusai yang kala itu mengantarkan Yusak ke tepi rimba untuk pualng ke Bangko. Bepak Pengusai masih ingat dengan baik kala guru rimba yang mereka cintai itu, diantarkannya ke SPG Bungo Tanjung. Menurut Bepak Pemusai kala itu, Yusak masih mengendarai motor trailnya keluar rimba, jalannya sangat buruk dan licin. Kala itu Bepak Pengusai memilih berjalan kaki di belakang Yusak. Namun dikejahuan di dengarnya Yusak berteriak, bergegas dia menyusul sang guru, “Waktu itu ngeri naik motor, jalannya buruk, jalan logging licin, akeh hopi berani naik motor, mako akeh susul dari belakang, waktu kanti berteriak akeh kejar, ruponyo Bepak Guru salah jalan, akeh tunjukkan jalan ke SPG nang biaso kami lalui, hopi tau kenapo bisa salah jalan, padahal sudah sering jalan itu dilaluinya,”tutur Bepak Bepiun.
Bepak Bepiun tak pernah menyangka hari itu adalah untuk terakhir kalinya ia melihat Yusak yang telah mengajarkanya anak-anaknya baca tulis dan berhitung. Sore harinya, sesampai di kantor Bangko, Yusak masih sempat bercengrkrama dengan sesame penguin mess tempat mereka tinggal dan melepas lelah kala kembali dari lapangan. Deman yang dirasakannya dianggap deman biasa, tapi tanpa di sangka, sore itu langsung terjadi kepanikan kala Yusak kejang, dan tak lama berselang dalam perjalanan ke rumah sakit yang hanya berjarak 1 km dari mess Yusak menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Kini empat belas tahun berlalu, Yusak mungkin sudah tenang di alam sana, melihat pendidikan anak rimba sudah berkembang pesat. Ibu Roosnipun sudah ikhlas dengan kepergian anaknya. Kali ini empat belas tahun kemudian air matanya jatuh lagi, bukan menyesali kepergian anaknya, namun rasa haru yang sangat membuncah, bangga dengan perjuangan sang putra yang sudah membuka jalan, meretas akraba bagi anak-anak rimba dibelantara.
Yusak telah menemui takdirnya, sesuai dengan janjinya pada sang mama akan pulang pada tanggal 26 Maret 1999. “Ia  benar-benar pulang, tetapi sudah di dalam peti, waktu saya menangis, kenapa.. kenapa… tapi kini saya bangga  dititipkan anak seberani dan setekun Yusak, semoga yang dilakukannya terus membakar semangat kalian (Warsi) untuk melanjutkan perjuangannya, dan semoga orang rimba semakin baik kehidupannya,”ujar Rosni dengan suara bergetar.
Yusak_KarikaturYusak, engkau tak pernah pergi semangat dan perjuanganmu akan selalu ada di dalam jiwa dan semangat kami.***  (sukmareni)

Sabtu, 06 April 2013

KKP Targetkan Produksi Patin 1,1 Juta Ton

Ikan Patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual cukup tinggi. Prospek ini menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati para pengusaha untuk membudidayakannya.
DR.IR SLAMET SOEBJAKTO,MS.SI
Direktur jenderal 
Perkembangan produksi budidaya ikan Patin menunjukkan kenaikan sangat signifikan. Pada 2006 produksi ikan Patin mencapai 31.490 ton pertahun dan pada 2012 mengalami peningkatan menjadi 651.000 ton pertahun. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memacu peningkatan produksi ikan Patin dari tahun ke tahun dengan target produksi nasional pada 2013 sebesar 1.107.000 ton.
Demikian dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo, pada acara panen Patin dan peluncuran perdana unit pengolahan ikan fillet Patin dan tepung ikan di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi (6/04).
Sharif menjelaskan,

KKP menetapkan patin sebagai salah satu komoditas perikanan dalam program percepatan industrialisasi dari jenis komoditas perikanan budidaya. Selain untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, patin juga ditargetkan menjadi produk unggulan untuk ekspor, karena kebutuhan pasar patin sangat besar, tidak hanya di dalam negeri melainkan juga di pasar internasional. KKP telah menetapkan lokasi sentra budidaya patin tersebar di 10 (sepuluh) provinsi yang meliputi pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
Pembangunan sentra ikan dan Unit Pengolahan Ikan (UPI) fillet patin serta pabrik dan mesin pengolah tepung ikan di kabupaten Muaro Jambi merupakan salah satu program KKP untuk mendukung peningkatan produksi ikan patin.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo
Sedangkan 5 (lima) lokasi percontohan lain yang mendapat program yang sama adalah di Kabupaten Kampar Provinsi Riau, Kabupaten Tulung Agung Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat.
Industri pengolahan ikan berbahan baku ikan patin di Indonesia saat ini masih berskala UMKM, Namun memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan menjadi skala industri besar. Saat ini terdapat 8 (delapan) unit pengolahan fillet patin yang ada di Jakarta, Surabaya dan Banjarmasin dengan jenis patin yang diolah adalah Pangasius hypothalamus.
Untuk mendukungnya, salah satu langkah yang diambil KKP untuk memulai pembangunan industri patin di tanah air, yakni dengan membangun kawasan sentra ikan patin yang terintegrasi dengan fasilitas berupa sarana dan prasarana. Di antaranya, KKP telah membangun 6 (enam) lokasi percontohan UPI Fillet Patin serta pabrik dan mesin pengolah tepung ikan.
“Pada kesempatan ini saya merasa bahagia bahwa tadi saya sudah melakukan tebar benih, panen patin dan meresmikan peluncuran pengolahan filet patin dan tepung ikan. Sungguh ini merupakan kegiatan nyata dari industri terpadu hulu hilir yang mengikuti prinsip-prinsip ekonomi biru,” kata Sharif.
Sharif menegaskan, usaha budidaya patin, harus dilakukan secara efektif dan efisien, sehingga mampu menekan biaya produksi serta menghasilkan patin dengan kualitas tinggi dan memenuhi persyaratan ekspor. Oleh karena itu, penggunaan benih unggul,
pakan berkualitas dan murah serta pemanfaatan teknologi yang ramah lingkungan, perlu diterapkan dalam usaha budidaya patin.
Hal tersebut sejalan dengan pengembangan budidaya berbasis blue economy yang saat ini tengah digalakkan KKP. Bisnis perikanan budidaya berbasis blue economy merupakan usaha budidaya yang menerapkan pada empat prinsip utama yakni, zero waste, social inclusiveness, multi product serta inovasi dan adaptasi.
Pengembangan budidaya berbasis blue economy memiliki berbagai keuntungan yang berorientasi pada nilai tambah seperti keuntungan secara ekonomi dan lingkungan, ramah lingkungan, tanpa limbah, pemanfaatan sumber daya alam yang lebih efisien melalui kreasi dan inovasi teknologi adaptif.
PANEN IKAN PATIN DALAM LONJING UPI
“Saya berharap program ini mendukung terciptanya produk turunan dengan nilai ekonomi yang tinggi, dapat menyerap tenaga kerja dan perluasan lapangan usaha serta mampu menciptakan industri perikanan yang efisien sehingga produk yang dihasilkan mempunyai daya saing. Lebih dari itu, pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Pada saat yang sama Sharif juga menyerahkan bantuan KKP kepada Gubernur Jambi sebesar Rp. 23,18 Miliar. Bantuan tersebut diperuntukan untuk program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Poklahsar 27 Kelompok senilai Rp1,35 miliar, Sarana Prasarana Pemasaran Dalam Negeri sebesar Rp 2,5 miliar, bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) untuk 30 KUB sebesar Rp 3 miliar, bantuan untuk program Kapal Inka Mina sebanyak 5 Unit senilai Rp 7,5 miliar dan bantuan Kapal Pengawasan FRP 12 Meter senilai Rp 1,65 miliar.
Selanjutnya KKP juga memberikan bantuan Handphone SMS Gateway diperuntukkan bagi Pokmaswas sebanyak 28 Unit senilai Rp 14 juta, bantuan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan senilai Rp 1,5 miliar, bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) untuk 85 paket perikanan budidaya senilai Rp5,5 miliar serta bantuan Vaksin Edward Siealla Ichtaluri senilai Rp50 juta.

Selasa, 02 April 2013

MUAROSEBO TUAN RUMAH MTQ TINGKAT PROVINSI JAMBI 2013

Pada perhelatan MTQ tingkat Provinsi jambi tahun 2013 mendatang, Kecamatan Marosebo Muarojambi menjadi tuan rumah pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan.
     Persiapan pelaksanaan MTQ ini Pemkab Muarojambi telah mempersiapkann lahan seluas 10 ha yang saat ini sedang dilakukan pembangunan gedung tempat acara akan dilangsungkan, seperti penginapan, gedung perlombaan, dll.
            ‘’Seluruh masyarakat mendukung penuh kegiatan MTQ tingkat provinsi ini dan akan ikut berpartisipasi membantu pembangunan. Setelah pelaksanaan MTQ, rencananya eks gedung akan dijadikan Yayasan Pendidikan Sailun Salimbai,’’ ujar Camat Kecamatan Marosebo, Salma Mahir.
            Selnjutnya, jalur jalan Jambi Kecil ini akan dibangunkan jalan jalur dua dan merupakan kesempatan bagi masyarakat desa untuk memajukan perekonomian mereka. ‘’Sebab fasilitas sudah memadai, hinga perekonomian  masyarakat akan lebih terjamin menuju kesejahteraan masyarkat,’’ tururnya.
            Salma mengatakan semua fasilitas sebagai tuan rumah, masyarakat telah mempersiapkan segala sesuatunya seperti sosialisasi kepada masyarakat untuk menyambut dan melayani para kafilah yang datang. ‘’Sudah beberapa desa yang sudah dipersiapkan untuk kediaman para khafilah seperti Desa Jambi Kecil, Mudung Darat, Tanjung Katung, Jambi Tulo, dan Desa Setiris. Saat ini desa tersebut sedang dibenahi demi menghadapi pelaksanaan MTQ nantinya,

Minggu, 31 Maret 2013

HIMJASS Siap Menangkan Sum Indra – Maulana

Dukungan bagi Sum Indra-Maulana untuk memenangkan Pilwako juni 2013 mendatang, agaknya bukan sekedar basa-basi belaka. Hal ini terbukti dengan tumpah ruahnya warga dari berbagai lapisan masyarakat, himpunan, kerukunan dan suku pada deklarasi pasangan SIMPATIK (Sum Indra – Maulana Pemimpin Amanah, Tabligh, Intelektual & Karismatik) sabtu (23/3) lalu.
Himpunan Masyarakat Jambi Asal Sumatera Selatan (HIMJASS) misalnya, setelah beberapa waktu lalu Ketua Pengurus HIMJASS Provinsi Jambi Ir. Sayuti, Imron TB, Ir. Yudimargestian dan Helmi SH serta Ketua dan Pengurus HIMJASS Kota Jambi, yaki Jauwari, Rizal SH dan pengurus lainya mengadakan pertemuan guna guna menyatakan dukungan kepada SIMPATIK. Kali ini dukungan itu terlihat dari tumpah ruahnya ribuan warga Jambi asal Sumatera Selatan pada deklarasi SIMPATIK yang datang dengan satu semangat yang sama untuk memenangkan pasangan ini.
Selain HIMJASS, dukungan serupa juga datang dari berbagai kalangan, himpunan, kerukunan dan suku yang ada di Kota Jambi. Banyaknya dukungan tersebut tentu meberikan makna tersendiri bagi Sum Indra – Maulana. “Kami selalu memaknai setiap dukungan yang diberikan sebagai amanah, juga sebagai tanda bahwa warga Kota Jambi sangat merindukan memimpin yang tabligh, yang bisa memenuhi harapan warga”, kata Sum.

Inilah Alasan Sum Indra “Tak Layak Jadi Walikota Jambi”


Inilah Alasan Sum Indra “Tak Layak Jadi Walikota Jambi”


M. Sum Indra dan dr. Maulana saat Deklarasi SIMPATIK
M. Sum Indra dan dr. Maulana saat Deklarasi SIMPATIK
Muhammad Sum Indra, SE., MMSI. yang kerap disapa Bang Sum oleh warga Kota Jambi ini, tidak pernah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang politisi. Sejak remaja, suami Luthfi Chalisyah Chaliri itu, selalu mendambakan masa-masa hidupnya dihabiskan untuk menimba ilmu bersama murid-murid yang mengelilinginya. Ia ingin sekali menjadi seorang pengajar, entah itu guru, dosen atau apapun, yang penting baginya, ia dapat memberi ilmu dan mendidik sebanyak-banyaknya anak didik. Baginya, profesi itu amatlah mulia. “Berkat guru-guru lah, kita bisa menjadi”, demikian ia mengungkapkan kekagumannya pada profesi guru. Rupanya Tuhan mengabulkan keinginannya, Sum Indra pun menjadi dosen dan sangat bersungguh-sungguh menjalankan profesi yang didamba-dambakannya itu.
Namun nasib bicara lain, melihat kenyataan hidup warga Kota Jambi yang semakin tertinggal oleh kemajuan hidup warga di belahan wilayah Indonesia lainnya, lelaki yang murah senyum dan terkenal dengan kepeduliannya terhadap sesama ini, merasa terpanggil untuk mengambil peranan terpenting dalam usaha mengangkat derajat kehidupan warga Kota Jambi. Lagi-lagi, niat baiknya itu dikabulkan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sum Indra pun diberi amanah untuk menjadi Wakil Walikota Jambi periode 2008 – 2013. Panggilan serupa pun dirasakannya kini, ketika hampir seluruh warga Kota Jambi menuntut dirinya untuk berbuat lebih banyak, dan tampil sebagai yang terdepan dalam memimpin kota ini. Ia pun didaulat ratusan ribu warga untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Jambi berikutnya.
Sebagai seorang yang memiliki latar belakang pendidikan, Sum Indra tentu saja tahu persis, bahkan sangat memahaminya, bahwa istilah “pahlawan tanpa tanda jasa”, bukan sekedar sebutan, melainkan sebuah filosofi hidup yang harus ditanamkan dalam jiwa serta dipegang teguh dalam menjalankan pengabdian hidupnya. Prinsip ini mengajarkan; keikhlasan dalam berbuat adalah yang terutama, tak menuntut penghargaan atas hasil kerja yang dilakukan adalah kemestian yang harus diterima. Bahkan, kerap kali, keberhasilan kerjanya sering tak diakui. Oleh sebab itu, Sum Indra sama sekali tak terganggu dengan serangan dan intrik politik yang menghilangkan peran dan hasil kinerjanya sebagai Wakil Walikota saat ini. Ia sadar sepenuhnya, betapapun hebatnya hasil kerja seorang wakil, tentu Walikota lah yang mendapat pujiannya. Demikian sebaliknya, baik, terutama buruknya, kinerja seorang Walikota, wakilnya pasti terbawa-bawa.
Kendati demikian, agaknya persaingan politik dengan cekatan memutar balikan alur cerita. Kelemahan posisi Sum Indra sebagai Wakil Walikota saat ini, rupa-rupanya menjadi sasaran empuk serangan yang dilancarkan oleh sejumlah pihak yang tidak setuju, atau mungkin tidak memahami, bahkan bisa jadi iri, dengan ide-ide baru yang ditawarkan Sum Indra untuk membangun Kota Jambi. Memang tidak ada jaminan Sum Indra dapat memperbaiki keadaan, tetapi di sisi yang lainnya, pengalaman Sum Indra sebagai pelaku pembangunan Kota Jambi sering disepelekan. Hebatnya lagi, yang membuat kebanyakan warga Jambi terheran-heran adalah, ketika visi dan misi pembangunan Sum Indra yang dirancang dari pengalamannya sebagai Wakil Walikota itu, direndah-rendahkan dan dibanding-bandingkan dengan gagasan pihak-pihak lain yang dipuji-puji, yang padahal sama sekali belum mengenal seluk-beluk pembangunan Kota Jambi, jauh dari kata teruji.
Selain itu, Sum Indra juga disebut-sebut sebagai seorang yang tak punya integritas, ambisius, dan sengaja mencari jabatan untuk melanggengkan kejayaan usaha keluarganya. Itulah hal-hal yang selalu dijadikan senjata untuk menyerang Sum Indra, tepatnya, sebagai usaha untuk mempengaruhi warga Kota Jambi untuk tidak memilih Sum Indra. Padahal, warga Kota Jambi yang kini sudah jauh sangat cerdas, telah dapat memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang mengada-ada.
Jika diteliti, inilah alasan sederhana dan cenderung mengada-ada yang digunakan sejumlah pihak untuk mempengaruhi warga untuk tidak memilih Sum Indra, yaitu;
Pertama, Sum Indra tidak berprestasi selama menjadi Wakil Walikota. Alasan ini selalu dijadikan senjata andalan oleh segelintir orang untuk mempengaruhi warga agar tidak memilih Bang Sum (demikian lelaki yang aktif diberbagai kegiatan sosial ini disapa warga) dalam Pilkada Jambi nani. Padahal, menurut aturan yang berlaku (UU No 32/2004), tugas seorang Wakil Walikota itu hanya membantu Walikota di bidang pengawasan. Maka wajar jika dikatakan Sum Indra tidak berprestasi, sebab hasil kinerja pengawasan itu kemudian dijadikan sebagai dasar bagi Walikota untuk mengambil berbagai kebijakan penting, sehingga keberhasilan dari kebijakan itu lekat sekali dengan prestasi Walikota. Pasti, tidak akan ada yang menyebut itu sebagai prestasi Wakil Walikota.
Lagipula, aturan itu sudah benar adanya, pembagian peran yang demikian tentu punya maksud baik, yakni agar Wakil Walikota fokus pada pengawasan dan evaluasi, sehingga kepala daerah dapat dengan mudah mengambil kebijakan-kebijakan strategis. Tetapi jika Wakil Walikota telah melakukan tugasnya sebaik mungkin, namun tidak ada kebijakan dari pemerintah Kota yang efektif dan efisien menyentuh warga, tentu yang perlu dipertanyakan adalah apakah Walikota sudah mengambil kebijakan yang sesuai dengan laporan pengawasan wakilnya? Sekali lagi, wajar jika Wakil Walikota tidak terlihat prestasinya, ia pun layak disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Adalah salah jika Sum Indra terlalu melampaui batas wewenangnya (meskipun itu sesekali dilakukannya), sebab hal itu akan mengakibatkan adanya “dua matahari” dalam kepemimpinan pemerintahan Kota Jambi. Bisa dibayangkan, bagaimana bisa seorang Wakil Walikota lebih dihargai ketimbang Walikotanya? Tentu saja itu bukan hal yang baik untuk terus disaksikan di Kota Jambi.
Masih soal tak punya prestasi. Terlepas dari berbagai hasil kerja Sum Indra yang diabaikan dan tak banyak diketahui masyarakat, adalah wajar juga jika ia terpacu semangatnya untuk berprestasi. Kita bisa sama-sama membayangkan, juga merasakan; ketika kita tahu persoalan, tahu solusinya, ingin sekali menyelesaikannya, tapi apa daya, posisi dan kesempatan yang ada tidak memungkinkan. Tentu saja, “mengurut dada” adalah satu-satunya cara untuk sabar, sembari berdoa agar kelak kita diberikan kesempatan untuk melakukan yang tak bisa kita lakukan sekarang. Sesederhana itu kita bisa meraba dan memaklumi semangat Sum Indra untuk meraih prestasi, atau setidak-tidaknya ia ingin mewujudkan solusi, hasil pengawasannya dalam bentuk kebijakan yang nyata dan langsung dirasakan oleh masyarakat. Ia agaknya sadar, bahwa hasil pengawasan yang selama ini telah dilakukannya memang tidak berdampak langsung dan serta merta bagi kesejahteraan warga, tetapi tentu saja hal itu akan menjadi prestasi tersendiri jika ia kelak mampu mewujudkan hasil pengawasannya secepat mungkin dalam kebijakan bagi warga Kota Jambi. Dalam hal ini, sekali lagi, wajar jika ini saatnya bagi Sum Indra untuk memperlihatkan hasil kinerjanya selama ini, dan jika dalam waktu singkat ia mampu merealisasikannya, wajar pula jika kita “tak lagi bisa mengatakan bahwa Sum Indra tidak berprestasi”.
Kedua, Sum Indra disebut-sebut tak punya integritas dan ambisius soal jabatan. Kita seringkali mudah tertipu dengan manipulasi kata-kata yang negatif. Terutama menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kritik terhadap pemangku suatu jabatan. Sum Indra dikatakan tak punya integritas hanya karena ia seringkali bertentangan dengan Walikota dalam hal pengambilan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat. Sebagai yang bertugas mengawasi, Sum Indra mestinya lebih mengetahui kondisi pembangunan di kota ini. Wajar jika ia sering menentang kebijakan Walikota yang tidak sesuai dengan hasil pengawasannya. Bukankah itu yang kita harapkan? Sekali lagi, apa yang bisa diperbuat seorang wakil dalam keadaan seperti itu? Hanya stempel tak punya integritas-lah yang ia terima, akibat tak mampu merealisasikan hasil pengawasannya dalam keputusan Walikota. Agaknya kita perlu merenung sejenak, bukankah tidak fair bagi siapapun untuk berkata demikian?, tapi bahwa sebahagian terbesar warga Kota Jambi berkata Sum Indra tidak layak jadi Wakil Walikota, kita perlu membenarkan, sebab dilihat dari kasus ini, Sum Indra semestinya memiliki fungsi sebagai pengambil kebijakan atau Walikota.
Selanjutnya, tentu sangat aneh bagi kita yang memahami pengertian “integritas” secara utuh, jika seringnya Sum Indra bertentangan dengan Walikota dikatakan tidak punya integritas. Seperti yang kita pahami bersama, “integritas” itu secara sederhana diartikan sebagai konsistensi. Jika Sum Indra bersikeras mempertahankan argumennya berdasarkan hasil pengawasannya, apakah kita sampai hati mengatakan hal itu tidak konsisten? Tentu kita semua bisa menjawabnya sendiri.
Kemudian soal ambisius, karena Sum Indra tidak memiliki integritas, ia juga dicap sebagai haus jabatan, ambisius mengejar kedudukan karena mencalonkan diri sebagai Walikota berikutnya. Padahal bagi kita warga Jambi yang cerdas dan cermat memahami kondisi ini, tentu tidak akan semudah itu terlena oleh manipulasi dan plintiran isu semacam itu. Karena, bisa saja integritas seseorang ditunjukan dengan niatnya untuk memperbaiki keadaan. Sum Indra tidak mengklaim pemerintahan Kota Jambi saat ini berhasil, ia juga mengakui banyak kekurangan sebagaimana yang dikritik banyak pihak. Tapi ia tidak lari dari tanggungjawabnya untuk meneruskan program-program yang tidak direalisasikan atau bahkan dihilangkan sama sekali. Wajar jika ia menginginkan punya kesempatan dan kewenangan lebih, barangkali ia ingin menunjukan bukti integritasnya pada pembangunan Kota Jambi, yang sampai masa-masa akhir jabatannya sebagai Wakil Walikota belum menunjukan gerak yang signifikan.
Ketiga, Sum Indra diduga mencari jabatan untuk melanggengkan kejayaan usaha keluarganya. Memang tak ada yang memungkiri bahwa usaha keluarga besar Sum Indra cukup baik. Tapi tak elok pula, bahkan dapat dikatakan sama sekali kita tak punya hak untuk menduga Sum Indra senegatif itu. Lagipula, apalah kekuasaan seorang Walikota Jambi jika diandalkan untuk menyelamatkan usaha keluarga besar Sum Indra yang, konon, sudah berskala internasional, yang memang tak ada yang perlu diselamatkan karena semuanya baik-baik saja.
Di era reformasi dan disaat semangat transparansi publik di Indonesia demikian ketat kini, hampir dipastikan tak ada lagi ruang bagi pejabat manapun, baik lokal hingga nasional, untuk bermain-main dengan publik. Kita bisa sama-sama melihat akibatnya, telah berapa banyak petinggi negeri ini yang dibui, berapa banyak perusahaan keluarga besar yang menggelepar karena ulah-ulah mereka yang ingkar. Rasanya cukuplah itu jadi contoh bagi Sum Indra untuk tidak bermain-main dengan jabatan, atau acuh dengan rakyat dan pura-pura tak mendengar.
Mungkin jika kita boleh memberikan saran untuk Sum Indra, barangkali jika ia sekedar ingin melanggengkan usaha keluarga besarnya, atau ingin mencari untung sebesar-besarnya, tak usahlah berusaha meraih jabatan sebagai walikota, cukup fokus mengurusi usaha keluarganya saja. Tapi jika dengan kemapanan usaha keluarga sekarang, Sum Indra tak perlu lagi memikirkan ekonomi pribadi dan keluarga, maka rasanya seluruh warga Kota Jambi akan menyambut niat baik Sum Indra itu dengan tangan terbuka. Nyatanya, hal ini terbukti ketika kian hari kian deras saja, ratusan ribu warga berbondong-bondong menyampaikan dukungan kepadanya. Mungkinkah warga kota ini memang menginginkan pemimpinya tak lagi repot memikirkan keuntungan pribadi dan keluarga? Mungkinkah sosok itu ada pada Sum Indra? Bisa jadi demikian.
Mencermati ketiga alasan tentang ketidak layakan Sum Indra untuk dipilih sebagai Walikota Jambi di atas tadi, rasanya alasan itu cukup masuk akal dan wajar dilancarkan oleh lawan-lawan politiknya. Dikatakan wajar, karena hanya tiga alasan itu saja yang ada dan dapat diolah untuk menyudutkan posisi Sum Indra. Lagipula, tiga alasan tadi cukup mampu mempengaruhi pikiran kita jika kita tidak cermat menilainya. Namun dari sudut pandang dan pola pikiran yang jernih untuk kebaikan, kita dapat memaklumi, bahkan dapat dengan tegas menolak tiga alasan yang telah ternyata terbukti mengada-ada itu.
Warga Kota Jambi khususnya, umumnya masyarakat bangsa Indonesia, sudah berpengalaman dan cerdas dalam berpolitik, berdemokrasi. Kita telah terlatih untuk memilah dan memilih mana yang baik bagi bangsa dan negara kita, mana yang tidak. Kita juga telah memiliki pengalaman kebangsaan yang mumpuni untuk sedapat mungkin memilih pemimpin, baik lokal maupun nasional, yang tidak sekedar menjanjikan perubahan dan kebangkitan yang cepat, namun nyata-nyata belum atau tidak teruji sama sekali. Kita butuh pemimpin yang berpengalaman, dan jauh lebih penting, pemimpin yang sudah mengenal persoalan kota ini dengan baik, sehingga ia tak akan lagi coba-coba saat melakukan program apapun untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.
Dari semua yang telah diuraikan itu, rasanya tak ada lagi alasan bagi warga Kota Jambi untuk tidak memberikan kesempatan lebih banyak, dan posisi yang lebih tepat bagi Sum Indra untuk membuktikan integritasnya, menepis semua dugaan negatif pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya, dan membawa Kota Jambi ini berprestasi di tingkat lokal, regional, nasional bahkan hingga kancah internasional. Namun demikian, semoga prinsip hidupnya selama ini tetap dipegang teguh bahwa; untuk menjadi seorang pahlawan tidak melulu perlu tanda jasa, seperti yang telah Sum Indra lakukan selama ini. Semoga demikian adanya.

Mengapa selalu dengar radio