Minggu, 07 Desember 2014

BERAS JAMBI

Salah satu upaya dalam rangka meningkatkan daya saing pemasaran beras di Provinsi Jambi adalah dengan mempatenkan merk/label beras. Mulai tahun 2010, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi bersama dengan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota memfasilitasi pendaftaran label/packing beras Jambi sebanyak 13 (tiga belas) merek beras. Hingga saat ini, sebanyak 11 (sebelas) merek dagang yang sudah dipatenkan, sedangkan 2 (dua) merek beras sedang dalam proses pendaftaran hak paten. Diharapkan dari upaya tersebut memberikan peluang pemasaran beras Jambi yang lebih luas untuk menuju Jambi Emas 2015.


Pemasaran Beras di Provinsi Jambi
Permasalahan yang sering ditemukan produsen beras dalam meningkatkan daya saing beras lokal adalah:
Pada umumnya produksen lokal belum berani melakukan branding dan labeling produk beras yang mereka hasilkan dikarenakan tidaj ada permintaan pedagang.
Rendahnya pengetahuan produsen beras lokal dalam upaya meningkatkan nilai tambah produk beras yang dihasilkan ( label, registrasi merk, dan produk)
Packaging dan labeling yang ada saat ini belum sesuai ketentuan (brand Jambi, varietas beras yang dikemas, No registrasi dll) Mutu beras yang dikemas belum memenuhi standar beras yang diperdagangkan (produk yang dikemas campuran/tidak dengan tingkatan kwalitas tertentu).


KELEBIHAN BERAS JAMBI

Beras Jambi tidak kalah kualitas rasanya dari beras produk luar (merek yang ada di pasaran). Ada 2 (dua) pilihan rasa : pulen atau pera sesuai dengan rasa yang diinginkan, sedangkan harga relatif lebih murah dibandingkan harga beras luar dengan kualitas yang sama Beras Jambi adalah beras yang dihasilkan dari budidaya padi di daerah Jambi,  masih baru, setelah panen dan proses penggilingan, langsung dipasarkan, sehingga tidak mengalami penyimpanan yang lama di gudang dibandingkan beras dari luar daerah. Beras Lokal murni tanpa campuran, tanpa bahan pengawet dan tanpa pemutih, sehingga sehat untuk dikonsumsi keluarga.

                 
                   

                   


Outlet:
PASAR MODERN KEBON HANDIL
Jl. DI.Panjaitan No.11 Simpang Jeluthung Kebun Handil.Jambi

IKAN BOTIA

PENGEMBANGBIAKAN IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus Bleeker) SECARA BUATAN (Induced breeding)

Ikan botia ( Chromobotia macracanthus ) merupakan ikan alam asli Indonesia yang berasal dari Sungai Barito, Kalimantan Selatan dan Sungai Batanghari, Jambi, memiliki bentuk tubuh yang indah dengan punggung agak membungkuk sehingga tampak seperti pesawat tempur, warna tubuh kuning cerah dengan 3 (tiga) garis lebar atau hitam lebar.  Ikan botia menjadi primadona ekspor ikan hias sampai saat ini. Harga satu ekor ikan dengan ukuran 5 cm mencapai 13 euro (183 ribu) di pasaran Eropa.  Tetapi di Indonesia sendiri, ikan itu dijual ke petani dengan harga sekitar Rp. 6.000 – 10.000/ekor.
Di habitat aslinya, ikan botia hidup  pada air mengalir di sungai-sungai.  Oleh karena itu, disarankan agar dilengkapi dengan arus buatan untuk pemeliharaan dalam akuarium.  Botia toleran terhadap selang parameter air yang luas. Sedangkan di habitatnya mereka hidup pada selang pH 6 – 7,5, kesadahan 8 – 12 dH dan suhu 24 – 26 °C. 
Ketersediaan benih ikan botia masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Hasil tangkapan setiap tahunnya berfluktuasi, tergantung pada musim dan cenderung menurun.  Hal ini karena botia belum dapat ditangkarkan dan produksinya masih mengandalkan tangkapan dari alam. Adapun domestikasi ikan ini dalam penerapan teknologi masih skala laboratorium.  Oleh karena itu diperlukan teknologi pembenihan yang dapat langsung diterapkan di lapangan sebagai upaya perlindungan dan pengelolaan plasma nutfah ikan asli Indonesia serta memenuhi permintaan konsumen ikan hias.
Pengembangbiakan ikan dengan cara buatan umumnya telah berkembang pada ikan-ikan konsumsi sementara pada ikan-ikan hias yang ukurannya lebih kecil masih minim diaplikasikan. Pengembangan usaha pengembangbiakan ikan botia secara buatan (induced breeding) dapat diterapkan guna menyediakan benih-benih ikan hasil budidaya.  Keberhasilan ini, selain mendatangkan keuntungan ekonomi, secara tidak langsung juga dapat mengurangi penangkapan ikan botia di alam. Teknologi pembenihan dan pemeliharaan ikan botia perlu dikuasai dan disosialisasikan kepada masyarakat luas agar semakin banyak pihak yang terlibat dalam pengembangbiakan ikan ini.
1. Pematangan gonad induk ikan
Dalam penentuan standar induk ikan hias botia yang siap memijah digunakan berdasarkan ukuran panjang dan berat induk ikan matang gonad. Induk betina ikan botia  minimal telah mencapai matang gonad pada ukuran 16 cm atau berat mencapai 100 gram dan induk jantan mencapai ukuran 14 cm atau berat mencapai 40 gram.
Pemeliharaan induk botia dilakukan pada wadah akuarium atau fiberglas dengan kepadatan 6 – 8 ekor /m2 dan ketinggian air 40 cm. Kualitas air dalam media pemeliharaan induk botia antara lain suhu dengan kisaran 26 – 30oC, pH 6,5 – 7,0 dan oksigen terlarut >5 ppm. Wadah ditutup atau dinaungi dengan bahan gelap dan pada dalan wadah diberi tempat persembunyian berupa genting dan paralon.
Jenis pakan induk ikan botia berupa cacing sutera (Tubifex sp) dan pelet dengan kadar protein >35% diperkaya dengan vitamin E 500 mg/kg pakan. Frekuensi pemberian 2 kali sehari dengan jumlah pemberian dengan metode adlibitum (sekenyang-kenyangnya).
 2. Pemijahan dan Penetasan telur ikan
Pemijahan induk ikan botia dilaksanakan pada musim hujan dengan terlebih dahulu dilakukan seleksi induk yang benar-benar siap untuk dipijahkan. Seleksi induk dilakukan dengan cara visual (diraba) dan pengurutan (stripping) ataupun dengan cara kanulasi (katerisasi).
Untuk merangsang ovulasi atau spermiasi pada induk matang gonad dilakukan dengan cara stimulasi hormon gonadotropin menggunakan hormon ovaprin. Dosis penyuntikan 1,0 ml/kg berat induk betina dengan frekuensi penyuntikan 2 kali dan 0,6 ml/kg berat induk jantan, frekuensi penyuntikan 1 kali bersamaan penyuntikan pertama induk betina.
Proses pemijahan dilakukan secara buatan yakni setelah 11 – 18 jam setelah penyuntikan kedua dengan teknik stripping perut  ikan ke arah genital hingga telur dan sperma keluar, selanjutnya dilakukan fertilisasi.  Telur akan menetas menjadi larva dalam jangka waktu 19 – 29 jam. Tempat penetasan berupa corong dari fiberglass yang diberi aerasi kuat sehingga memungkinkan telur tetap melayang di air.
3. Pemeliharaan larva
Larva pasca penetasan dipelihara dalam wadah akuarium atau fiberglass dan diberi pakan nauplii Artemia ukuran 0,1 – 0,15 mm. Larva yang sehat akan terlihat naik turun mengikuti aliran air.  Kualitas air yang harus diperhatikan antara lain suhu antara 26 – 29oC, Oksigen terlarut > 5 ppm, pH 6,0 – 7,0 dan CO2  sekitar 6,0ppm.
4. Pengendalian penyakit
Penyakit yang sering menyerang ikan botia adalah Ichthyopthirius multifilis ditandai adanya bintik putih pada seluruh bagian tubuh terutama penyerangan tubuh bagian luar ikan (kulit, sirip dan insang) dan akibatnya dapat menyebabkan kematian.
Tindakan pencegahan adalah dengan menjaga kualitas air antara 27 – 30oC dan pemberian imunostimulan vitamin C dosis 500 mg/kg ikan atau glukan dosis 400 mg/kg ikan yang dicampur pada pakan dengan lama pemberian 5 – 7 hari berturut-turut. Sedangkan tindakan pengobatan menggunakan Methilien blue 3 ppm melalui perendaman selama 24 jam.

DAMARWULAN DAN MINAK JINGGO

KONON disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Majapahit yang dipegang oleh Ratu Ayu Kencana Wungu (Suhita) terjadi
pemberontakan yang dilakukan oleh Minak Jinggo (Bhre Wirabumi??)(Jengho mengacau lewat banyuwangi pintu belakang untuk mengacau perhatian Majapahit menjaga pintu laut jawa sehingga sebagian besar pasukan jenggho tidak diketahui telah masuk dari semarang- ). Pokok persoalan pemberontakan tersebut adalah karena Minak Jinggo ingin memperistrikan Ratu Ayu Kencana Wungu tetapi ditolak karena wajah Minak Jinggo seperti raksasa.( Wajahnya Bulat seperti TEmpeh khas mongoloid ) Hampir saja Minak Jinggo memperoleh kemenangan karena ia sangat sakti sebab memiliki senjata yang disebut gada wesi kuning. Akhirnya Ratu Kencana Wungu membuka sayembara barangsiapa yang dapat mengalahkan Minak Jinggo akan memperoleh hadiah yang luar biasa. Tersebutlah seorang ksatria putra seorang pendeta bernama Raden Damarwulan yang memasuki arena sayembara.

Dalam peperangan dengan Minak Jinggo hampir saja Damarwulan dapat tersingkir( kerajaan karang asem dan kluingkung sampai sekarang dikuasai keturunan china/mongol bukti jenggho tak dapat masuk ke jawa dia bukan lah muslim tapi budhist bukti adalah tidak didirikannya mesjid tetapi kuil taou ). Akan tetapi atas bantuan dua orang selir Minak Jinggo yang bernama Dewi Waita dan Dewi Puyengan akhirnya Minak Jinggo dapat dikalahkan ( di blambangan saja ). Selanjutnya Dewi Waita dan Dewi Puyengan menjadi istri Damarwulan. Sebagai imbalan atas kemenangan itu maka Damarwulan akhirnya menjadi suami Ratu Ayu Kencana Wungu ( mempunyai putra yang dinamai raden paku/sayid ainul yaqin yang kelak menjadi raja di demak karena ibunya adalah ratu Majapahit/Blambangan dengan gelar Prabu Satmata )dan bersama-sama memerintah di Majapahit ( Blambangan ).

Cerita Damarwulan-Minak Jinggo ini rupa-rupanya sangat populer di Jawa Tengah terlebih-lebih di Jawa Timur (peperangan
antara walisongo dengan majapahit adalah dengan prabu brawijaya ke VII yang ketika itu majapahit sudah lemah karena negara mancanegarinya sudah dikalahkan Mongol diduga kemarahan CHINA adalah di serang nya SRIWIJAYA - Budhist oleh MAJAPAHIT- Hindhu dan pembalasan kekalahan Kubulaikhan ). Hingga sekarang kita masih dapat melihat peningggalan tersebut dalam bentuk makam kuno yang terletak di Desa Troloyo, Trowulan, Mojokerto. Di sana kita jumpai suatu kompleks makam yang oleh penduduk dianggap sebagai makam Ratu Ayu Kencana Wungu ( ratu Blambangan ditinggal oleh maulana ISkak karena mungkin Jenggho sudah masuk pasae/ Gresik..apakah beliau syahid di sana sehingga sunan Giri sejak kecil sudah piatu??? tinggal di kepatihan diangkat putra oleh Nyai Bin Patih/ Pinatih: Kampung kecil HaBaSA). Dewi Waita dan Dewi Puyengan serta beberapa orang pengikutnya. Makam tersebut menurut penelitian para ahli yang sebenarnya adalah makam-makam Islam yang awal . Dari angka tahunnya yang tertulis pada nisan-nisan menunjuk angka 1295 M - 1457 M.

Tidak jauh dari Troloyo, masih di Desa Trowulan juga kita jumpai sebuah candi yang oleh penduduk setempat dinamakan
candi Minak Jinggo. Melihat berbagai Hiasan serta peninggalan lain yang terdapat di sekitar candi tersebut dapat diperkirakan bahwa candi Minak Jinggo berasal dari zaman Majapahit

Rabu, 19 November 2014

BERBAGI BERSAMA SEKOLAH LUAR BIASA DI MUARO JAMBI

MEREKA BELAJAR
SISWA SISWI SLB KAB.MUARO JAMBI
MEREKA BELAJAR PEMIJAHAN IKAN LELE SANGKURIANG

Muaro Jambi Radio Dalam Gambar

KIWO KO PEMBUAT GAMELAN DI PROPINSI JAMBI
pembangun Jembatan di Sidomukti Tanjabtimur
setiker Radio News Muaro jambi
Industri Kreatf wisnu murti Jambi

Di Kota Jambi, Harga Premiun Di Pengecer Rp 10.000/Liter

-Para pengecer Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Jambi menaikkan harga premium hingga Rp 2.500/liter atau 33 % dari harga sebelumnya. Itu dilakukan menyusul keputusan Pemerintah Pusat menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 2.000/liter mulai Selasa (18/11).
Pantauan Harian Jambi di kios pengecer BBM Jalan Pangeran Hidayat, Paal V, Kota Jambi, Selasa (18/11) pagi, harga BBM jenis premium mencapai Rp 10.000/liter.
Harga premium tersebut naik Rp 2.500/liter atau sekitar 33 % dari harga premium eceran sbelumnya Rp 7.500/liter. Bahkan di kios pengecer BBM pinggiran Kota Jambi, harga premium ada yang mencapai Rp 12.000/liter.
Syahrul (35), pengecer BBM di Jalan Pangeran Hidayat, Paal V, Kota Jambi kepada SP, Selasa (18/11) pagi mengatakan, dirinya menjual premium Rp 10.000/liter karena harga premium di SPBU sebesar Rp 8.500/liter.
Sebelum kenaikan harga BBM, Syahrul biasanya menjual premium Rp 7.500/liter atau selisih Rp 1.000/liter dari harga premium di SPBU sebesar Rp 6.500/liter.
Sementara itu, antrean panjang untuk mendapatkan BBM di SPBU Kota Jambi, Selasa (18/11) pagi tidak terjadi lagi. Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM sempat terjadi di seluruh SPBU Kota Jambi, Senin (17/11) malam.
Aksi borong tersebut terjadi menyusul pengumuman kenaikan harga BBM yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (17/11) malam.
Setelah mengetahui kenaikan BBM mulai Selasa (18/11) dini hari, seluruh stasiun pengisian bahan bakar minyak untuk umum (SPBU) di Kota Jambi diserbu warga.
Arief (40), seorang warga yang antre di SPBU Jalan Pattimura, Kota Jambi, Senin (17/11) malam mengaku kecewa karena SPBU tersebut sudah tutup pukul 22.00 WIB.
Dia sudah antre hampir setengah jam untuk mengisi BBM sepeda motor. Namun SPBU Pattimura tersebut langsung tutup kendati antrean untuk mendapatkan BBM masih panjang.
Menurut Arief, SPBU di Kota Jambi banyak yang cepat tutup setelah pengumuman kenaikan harga BBM karena kehabisan persediaan. Persediaan BBM di SPBU cepat habis karena adanya aksi borong yang dilakukan warga masyarakat.
Aksi borong tersebut sebagian besar diduga dilakukan para spekulan dengan menggunakan mobil.
Sementara Hiswana Migas Jambi, Selasa (18/11) langsung melakukan rapat sosialisasi kebijakan perubahan harga BBM PSO Bengkulu dan Jambi.
Anggota Hiswana Migas Jambi, Awal J Damanik mengatakan, BBM jenis solar seharusnya naik lebih tinggi karena saat ini Solar non subsidi Rp 12 ribu sehingga masih sangat menggoda untuk diselewengkan.
Disebutkan, di Vietnam,Singapura, Malaysia dan sejumlah negara lain harga BBM sudah diatas Rp 11 ribu. “Dengan kenaikan harga BBM kini, pemerintah tinggal memberantas koruptor seperti Atut, Nazarudin dan lainnya sehingga APBN dan APBD bisa benar mengalir ke masyarakat. Semoga,” sumber
HARIANJAMBI.COM, JAMBI

Selasa, 18 November 2014

Radio News Muaro Jambi sukses mengikuti Afiliasiasi VOA 2014 Di bandung

setiap dua tahun VOA (Voice of America) mengadakan Konferensi untuk semua Afiliasinya yang tersebar di seluruh Indonesia, Baik  itu Radio, TV pun media lainnya. Tahun ini mengambil tema Audience Engangement in The 21st Century dan dilaksanakan pada tanggal 29, 30 September sampai 1 Oktober 2014, di Hotel Clarity Bandung.
Pertemuan ini disamping saling sharing tentang karya-karya media bersama VOA, sekaligus juga belajar tentang cerita sukses baik dari para pakar maupun praktisi media entah itu radio pun jejaring sosial lainnya. Mereka itu, al. Bpk. Errol Jonathans, Direktur Suara Surabaya Media, Bpk. Enda Nasution, penggagas Koin Prita, Mas Shafiq Pontoh, relawan JOKOWI-JK
Radio News Muaro JAmbi , Radio Digital 2.0 sebagai salah satu peserta sukses mengikuti seluruh rangkaian Konferensi dan membawa pulang 1 buah IPOD karena menjadi peng-tweet terbanyak. Maklum dalam selama kegiatan oleh Panitia diadakan lomba tweet terbanyak untuk mengomentari seluruh kegiatan.
Berikut, welcome speech dari Noorman Goodman VOA Indonesian Service, Washington DC.

Minggu, 16 November 2014

SEJARAH DESA LAMBUR TANJUNG JABUNG TIMUR

Sejarah Desa Lambur Kec.Muara Sabak Timur


Sejarah Desa Lambur
Konon pada tahun 1954 sebuah perahu lambo (perahu kayu) terdampar dikuala sungai kemudian daerah ini diberi nama Lamboro oleh seorang petuah kampung bernama H.Podang yang waktu itu masih berdomisili di Kampung Laut. Lamboro yang kemudian lebih dikenal dengan nama Lambur mengandung pengertian melimpah, sangat banyak, melambung tinggi. Daerah ini menurut orang yang pertama kali menggali anak sungai (parit 1) H.Juma (Alm) mengatakan di Lambur tempat gudang rejeki, daerah makmur, subur dan kaya akan sumber daya alam sehingga dikatakan dalam sebuah kata berbunyi : Dikepalamu ada beras dikakimu ada ikan semboyan inilah yang terus dipertahankan masyarakat Lambur sampai saat ini sehingga desa ini memang dikenal daerah lumbung padi dan hasil laut yang cukup diandalkan sebagai mata pencaharian untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat

Desa Lambur pada tahun 1956 telah disahkan menjadi sebuah desa defenitif yang dinahkodai oleh seorang mangku bernama Abdul Rasyid dari kepemimpinan Abdul Rasyid dilanjutkan dengan mangku yang lain seperti : Muhammad Amin, Zainal CH dan Ngatta Mamma. Selanjutnya pada tahun 1972 Desa Lambur sudah dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Harun Thaib yang diangkat/penetapan dari seorang polisi aktif dengan masa tugas sampai tahun 1989 setelah berjalan kepemimpinan beliau selama 17 tahun. Pada tahun 1989 sedang digemborkan pemilihan lansung kepala desa maka LMD (Lemabaga Masyarakat Desa) membentuk Panitia PILKADES untuk melaksanakan penyaringan dan pencalonan kepala Desa dari hasil penyaringan yang dilakukan oleh panitia maka didapatkan 3 (tiga) orang yang akan ikut bertarung diantaranya : (1) H.Rajab, (2) Ngatta Mamma dan (3) Harun Thaib dari ketiga pasang calon kepala desa yang mendapat suara terbanyak adalah Harun Thaib untuk priode 1989-1998.
Namun 2 (dua) tahun menjelang masa jabatan Harun Thaib habis, kerena faktor usia dan kesehatan tidak memungkingkan lagi untuk melanjutkan pemerintahan maka ditunjuklah M.Syargawi amin yang pada waktu itu menjabat sebagai Sekretaris Desa untuk melanjutkan pemerintahan sampai diadakan pemilihan Kepala Desa berikutnya. 
Pada tahun 1998 maka diadakanlah Pemilihan Kepala Desa yang kedua kalinya yang diikuti  2 (dua) orang calon yang ikut bertarung untuk merebut posisi orang nomor satu di Desa Lambur yakni M.Syargawi Amin dan Andi Panna.
Dari pertarungan ini yang mendapat nasib baik dan dukungan dan suara terbanyak dari masyarakat adalah M.Syargawi Amin, dengan masa jabatan selama 8 (delapan) tahun, setahun setelah terpilihnya M.Syargawi Amin tepatnya pada tahun 1999 seiring dengan Otonomi Daerah maka wilayah Tanjung Jabung dimekarkan menjadi 2 wilayah yakni Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, sementara jabatan M.Syargawi Amin selaku Kepala Desa Lambur masih terus dijabat sampai tahun 2006.
Seiring dengan otonomi daerah tersebut, Tepatnya pada tahun 2004 Pemerintah Kabupaten Tanjung jabung Timur memekarkan Desa Lambur menjadi 2 (dua) Desa yakni Desa Lambur dan Desa Kota Harapan. Dengan dimekarkannya Desa Lambur menjadi 2 (dua) Desa maka secara geografis dan luas daerah secara otomatis berubah, maka sistem aparatur desapun kembali dibenali. Dan pada tahun 2007 kembali masyarakat Lambur melaksanakan pesta demokrasi untuk pemilihan Kepala Desa Berikutnya. Karena jiwa kepemimpinan dan kepeduliannya terhadap pembangunan Desa Lambur, maka masyarakat kembali memilih M.Syargawi Amin sebagai Kepala Desa Lambur dengan masa jabatan enam tahun ( 2007-2013) dari  pesaingnya adalah H.Budi Amin.
Melihat dari awal berdirinya Desa Lambur pada tahun 1956 yang secara administrasi masih satu wilayah dengan Kampung Laut yang dipimpin oleh seorang Mangku karena jarak antara Lambur dengan Kampung Laut cukup jauh sehingga pemerintahan tidak berjalan dengan baik dan efektif. Pada tahun 1971 Desa Lambur berpisah dari wilayah Kampung Laut dan telah memiliki Kepala Desa sendiri dengan maksud dan tujuan agar pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan berjalan dengan baik. Sejalan dengan itu dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan masyarakat maka pada tahun 1970 Datuk Harun Taib bersama perangkatnya dan masyarakat membangun Kantor Desa sendiri secara swadaya dan alhamdullillah sampai sekarang kantor tersebut masih berdiri kokoh.

Penduduk desa pertama kali adalah para pendatang dari Sulawesi (Suku Bugis) sekitar tahun 1960an, tepatnya di muara Sungai Sepucuk Nipah. Kelompok pendatang ini kemudian mendirikan pemukiman di sekitar sungai dan beberapa saat kemudian diikuti dengan kelompok keluarga lain, baik yang langsung dari Pulau Sulawesi maupun orang-orang Bugis yang telah berdomisili di Nipah Panjang, Muara Sabak, Kota Jambi dan lainnya, serta suku lain terutama suku Jawa, Cina, Kerinci, Batak, Melayu Jambi, dan lainnya.
Maksud kedatangan penduduk ke desa ini pertama kali adalah sebagai nelayan yang memerlukan lokasi tempat berlabuh bagi perahu dayung yang mereka gunakan sebagai sarana menangkap ikan. Pada saat menetap inilah dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga akan beras, kemudian mereka mulai mengolah lahan untuk tanaman pangan (padi) dan selanjutnya menanam kelapa yang ternyata hasilnya cukup baik dan berkembang sampai saat sekarang. Perkembangan penduduk desa mengalami arus turun naik dari periode ke periode seperti pada akhir tahun 1970an dan awal 1980an jumlah penduduk datang cukup banyak, tetapi mulai tahun 1990an jumlah pendatang semakin sedikit dan bahkan sebagian kembali ke Sulawesi. Penduduk yang meninggalkan desa sampai saat masih memiliki lahan dan tidak diolah sehingga menjadi semak dan belukar terutama pada parit 7. Pada lokasi ini masih ditemukan bekas lahan persawahan yang sudah ditumbuhi semak dan belukar.

Sesuai perkembangan sistem administrasi pemerintahan di Indonesia, sebutan desa sewaktu berdiri adalah kampung (termasuk ke dalam Marga Nipah) yang dikepalai oleh seseorang yang disebut dengan Kepala Kampung atau lebih popular disebut dengan panggilan datuk. Setelah diberlakukan UU No. 5 tahun 1979 tentang pemerintah desa, maka pada tahun 1980 sebutan kampung berubah menjadi desa yang dikepalai oleh seseorang yang disebut dengan Kepala Desa sampai sekarang masih tetap populer dengan sebutan datuk oleh masyarakat

Mengapa selalu dengar radio